Gadai Emas Syariah

Dalam FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor : 25/DSN-MUI/III/2002 Tentang RAHN disebutkan ketentuan rahn dalam gadai syariah :

  1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang) sampai semua utang rahin ( yang menyerahkan barang) dilunasi.
  2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi miliki Rahin. Pada prinsipnya, Marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh Murtahin kecuali atas seizing Rahin, dengan tidak mengurangi nilai Marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya.
  3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban Rahin, tetapi dapat dilakukan juga oleh Murtahin sedangkan biaya dan pemeliharaan ppenyimpanan tetap menjadi kewajiban Rahin.
  4. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.
  5. Penjualan Marhun : (1)  apabila jatu tempo, Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk segera melunasi utangnya; (2) Apabila rahin tetap  tidak dapat melunasi utangnya, maka Marhun akan dijual paksa atau dieksekusi melalui lelang sesuai syaraiah; (3) hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan; (4) kelebihan hasil penjualan menjadi miliki Rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban Rahin.

Ketentuan tentang gadai emas syariah tetap berpedoman pada fatwa DSN Nomor 25/DSN-MU/III/2002 tentang Rahn dengan beberapa ketentuan tambahan berikut :

  1. Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhun) ditanggung oleh penggadai (rahin).
  2. Ongkos sebagaimana yang dimaksud ayat 1 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.
  3. Biaya penyimpanan barang (marhun) dilakukan berdasarkan akda ijarah.

Bagi nasabah, gadai emas syariah memiliki banyak manfaat sebagai berikut :

  1. Nasabah tidak perlu menjual emas untuk mendapatkan dana tunai.
  2. Emas yang digadaikan terjamin aman
  3. Dana hasil gadai bsia digunakan untuk kegiatan yang produktif, misaln ya membeli kembali emas.
  4. Nasabah tidak dikenai bunga pinjaman.
  5. Nasabah hisa memperpanjang kontrak (gadai ulang).
  6. Harga emas pada saat digadai ulang atau saat dijual bisa jadi lebih tinggi daripada saat digadaikan. Sebaliknya barang-barang sekalin emas (misalnya barang elektornik) pasti akan turun harganya saat digadai ulang atau dijual.

Terbuat dari bahan yang mudah dilebur, emas kemudian dapat dibuat menjadi bentuk yang bermacam-macam. Ada beberapa alternative yang dapat dipilih saat ingin menggadaikan emas  yaitu emas dalam bentuk perhiasan, batangan dan koin. Emas lantakan, batanga atau fine gold adalah pilihan yang tepat untuk gadai emas syariah. Ukuran emas lantakan ini terdiri dari beberapa variasi satuan mulai dari 1 gram ssampai 1 kg. Bentuk yang paling umum adalah emas batangan (gold bar) seperti batubata dengan kadar 22 karat (95%) atau 24 karat(99%). Pilihlah emas batangan 24 karat (logam mulia) karena kandungan nilainya tertinggi dan idak mengenal penyusutan. Saat digadaikan, digadai ulang atau dijual,  harganya lebih tinggi ketimbang emas perhiasan dan koin.

 

This entry was posted in Gadai emas, Pegadaian Syariah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>